Senin, 29 September 2014

SUDUT PANDANG DIVA DANGDUT- ERI SUSAN

Erie Suzan – Sudut Pandang Seorang Diva Dangdut

Rabu, 26 September 2012
Diva Dangdut yang satu ini ternyata telah lama malang melintang di industry musik Indonesia. Wanita lulusan Sastra Inggris ini lahir di Lamongan 30 Desember 1978. Smart-Simple-Unique-Moody-Doyan makan- Humoris dan Manis, adalah beberapa kata yang sedikit dapat menggambarkan sosok Erie Suzan.

Diawali karena sering diminta menggantikan kakaknya untuk latihan nyanyi, kemudian menjuarai festival festival Rock ,Pop,Dan Dangdut di JawaTimur. Hijrah ke Jakarta karena mendapat hadiah rekaman sebagai juara 1 salah satu festival rock se Jatim namun akhirnya di “keep”  karena usianya yang masih sangat kecil. Di masa penantian ini membawanya menjadi penyanyi pengiring di show shownya SLANK, bersama Anggun C.Sasmi dan Yossy Lucky.

Terlalu lama tak ada kepastian untuk Rekaman, Erie memutuskan untuk kembali Ke Lamongan, karena biaya hidup di Jakarta yang tinggi. Namun rejeki memang tidak kemana, dua hari menjelang kepulangannya ke JawaTimur,Erie mengikuti Festival Dangdut Se Jabotabek dan berhasil menjadi juara 1 dan mendapat piala dari Rhoma Irama. Seorang produser langsung tertarik untuk merekam sebuah album dangdut pertama Erie Suzan yang berjudul “Mabuk Duit”  di tahun 1992 dan saat itu Erie Suzan masih SMP kelas 2.

Setelah itu beberapa Hits Dangdut seperti “Jangan Buang Waktuku”, “Muara Kasih Bunda”, telah dihasilkan dari suara emasnya. Tidak berhenti sampai disitu, beberapa single hits duet diantaranya bersama Yus Yunus, Alm Abiem Ngesti, Alm Farid Harja, Adibal dan Beniqno kembali dihasilkan. Dua album Trio bersama, Ikke Nurjanah, Mila Rosa dan Iis Dahlia, Dewi Purwanti. Karyanya terakhir adalah Album D’Duta(8 Diva Dangdut Indonesia) didalamnya terdapat hits single “Tak Bisa Menunggu” dan “Sabda Cinta” duet bersama Iyeth Bustami.

 Berikut pembicaraan yang kami lakukan disela sela waktu luangnya sembari mempersiapkan project single terbarunya.

Kamarmusik: Apa arti musik, fans, dan Bunda buat kamu?

Erie Suzan: “Ketiganya adalah hadiah dari Tuhan yang besar dan berarti buat aku. Musik membuat aku belajar dan mengerti banyak hal tentang hidup, teman sejati saat aku susah maupun senang, melaluinya aku juga belajar tentang kelemahlembutan serta mendalami hati, musik juga yang mengurangi karakter minus dalam diri aku sedikit demi sedikit. Musik juga membuat  kebahagiaan tak terhingga buat hati aku. Musik adalah tempat aku mencurahkan segala perasaan serta menuangkan ide ide yang ada di dalam kepalaku..bisa dibilang musik adalah segalanya buat aku..aneh memang tapi faktanya memang begitu. Bunda adalah sosok pribadi yang membuat aku percaya bahwa malaikat itu ada. Beiau yang selalu support in everything I do in life…reminder untuk hal hal yang tidak baik buat aku dan yang senantiasa mendoakan kebahagiaan serta kesuksesanku. Fans bukan hanya sebagai teman maupun sahabat tapi juga sebagai penikmat dari karya karyaku.”


Kamarmusik: Apa bedanya Dangdut dulu dan sekarang?

Erie Suzan: “Aku start di saat dangdut masih Berjaya dengan karya karya yang berkualitas. Belum ada fenomena hewani dengan segala sensasinya seperti saat ini…Maksudku hewani tuh dengan munculnya grup grup yang menggunakan nama hewan serta goyangan yang berjulukan nama hewan. Belum lagi judul lagu yang juga berbau hewan juga hahahaha… Sekarang dangdut meningkat secara kuantitas namun menurun secara kualitas. Dulu suara merupakan aset utama bagi seorang penyanyi dangdut ditambah dengan karakter vocal yang beragam. Dangdut skrg lebih tidak terkonsep dengan matang. Secara kualitas vocal sebagian pendatang baru di musik dangdut belum layak untuk rekaman. Tidak berkarakter serta asal dalam sebuah karya, yang penting terkenal…Memprihatinkan memang… Begitu juga dengan musiknya,dulu aransemennya lebih terkonsep. Dan lagi sebagian pencipta lagu yang tidak memiliki idealisme belakangan ini, demi sebuah kebutuhan yang penting menghasilkan uang.  Tidak ada yang salah…. karena dangdut dengan kondisi sekarang ini didukung oleh semua media. Media seharusnya memiliki hak untuk menyensor tayangan hiburan maupun berita yang layak untuk disajikan bagi masyarakat. Karena seharusnya dalam bidang pekerjaan apapun kita tetap harus punya tanggung jawab moral yang harus kita sampaikan..”

Kamarmusik: What should we do about it?

Erie Suzan: “Banyak yang harus dilakukan untuk membenahi itu dan yang pasti tidak bisa sendiri. Semua elemen harus bersama sama untuk memiliki keprihatinan, perhatian, kesadaran, serta semangat dalam membuat perubahan yang baik ke depan… Apakah itu penyanyi, arranger, composer, producer, teman teman media baik cetak, radio, maupun televise, kepolisian, maupun pemerintah. Kalo boleh jujur memang sudah sulit kondisi industry musik terutama musik dangdut saat ini, so buat aku pribadi apapun yang terjadi aku ingin tetap menghasilkan karya karya yang baik ke depan..”

Kamarmusik: Siapa penyanyi idola kamu dalam and luar negeri?

Erie Suzan: “Untuk dangdut aku suka Rhoma Irama, karena secara tidak langsung beliau adalah guru ku dalam bernyanyi. Selain itu karya karya beliau lengkap dan semuanya enak buat didengerin maupun dinyanyiin. Yang membuat aku lebih kagum adalah selalu ada pesan moral yang disampaikan melalui karya karyanya. Aku juga suka Camelia Malik,beliau seorang artis yang sangat disiplin dan sangat piawai menghidupkan suasana dengan audience dengan gaya yang tidak norak, jogednya keren banget menurutku. Kemudian  Rita Sugiarto dan Elvy Sukaesih, mereka memiliki teknik vocal dan penjiwaan yang mumpuni. Kalo POP aku suka penyanyi yang suaranya berkarakter,diantaranya Kaka SLANK dan Judika. So… kalo bisa kolaborasi ama dua penyanyi ini.. Waah..sebuah kebanggan dan kebahagiaan buat karir musikku. Untuk luar negeri aku suka Christina Aguilera, Celine Dion, dan Joss Stone….edan! Gokiii banget suara mereka…”

Kamarmusik: Apa harapan kamu untuk industry dangdut ?

Erie Suzan: “Mudah mudahan industry musik dangdut bangkit lagi.. Para pelaku seninya tidak putus semangat untuk tetap berkarya dan berkreatifitas  menghasilkan karya karya yang baik dan positif baik melalui tampilan, suara maupun musiknya. Sehingga Dangdut benar benar dapat dibanggakan sebagai musik asli Indonesia yang dapat dinikmati secara positif, sehat dan menghibur…BUkan buat lucu lucuan seperti sekarang….”

Kamarmusik: Next Single kapan akan dirilis?

Erie Suzan: “Pinginnya sih sebelum akhir tahun ini tapi liat dulu perkembangan prosesnya nanti. Sebagian menyarankan di awal tahun aja biar gak nanggung dan bener bener matang untuk di lempar ke pasaran…tunggu aja.”

KARIER ERI SUSAN

ERI SUSAN


Erie Suzan lahir di Lamongan tanggal 30 Desember 1978. Diawali karena sering diminta menggantikan kakaknya untuk latihan nyanyi, kemudian menjuarai beberapa festival menyanyi rock, pop dan dangdut di Jawa Timur. Ia kemudian hijrah ke Jakarta karena mendapat hadiah rekaman sebagai juara 1 salah satu Festival Rock se-Jawa Timur, namun akhirnya ditunda karena usianya yang masih sangat kecil. Masa penantian ini membawanya menjadi penyanyi pengiring pada show musik beberapa artis, seperti Slank, Anggun C. Sasmi dan Yossy Lucky.
Terlalu lama tak ada kepastian untuk rekaman, Erie memutuskan untuk kembali ke Lamongan, karena biaya hidup di Jakarta yang tinggi. Namun, dua hari menjelang kepulangannya ke Jawa Timur, Erie mengikuti Festival Dangdut se-Jabotabek dan berhasil menjadi juara 1 dan mendapat piala dari Rhoma Irama. Seorang produser langsung tertarik untuk merekam sebuah album dangdut pertama Erie Suzan yang berjudul “Mabuk Duit” pada tahun 1992 dan saat itu Erie Suzan masih SMP kelas 2.
Setelah itu beberapa hits dangdut seperti “Jangan Buang Waktuku”, “Muara Kasih Bunda”, telah dihasilkannya. Tidak berhenti sampai di situ, beberapa single hits duet di antaranya bersama Yus Yunus, Alm. Abiem Ngesti, Alm. Farid Harja, Adibal dan Beniqno kembali dihasilkan. Dua album trio lainnya adalah bersama Ikke Nurjanah, Mila Rosa, Iis Dahlia dan Dewi Purwanti. Karyanya terakhir adalah Album D’Duta (8 Diva Dangdut Indonesia), yang di dalamnya terdapat hits single “Tak Bisa Menunggu” dan “Sabda Cinta” duet bersama Iyeth Bustami.

KARIER RITA SUGIARTO

KARIER RITA SUGIARTO

Bakat besar sebagai penyanyi sudah ditunjukkan Rita Sugiarto sejak masih duduk di bangku SD. Ia berhasil menjuarai beberapa festival musik pop mulai dari tingkat kodya Semarang hingga tingkat provinsi. Di usianya yang sangat belia, 13 tahun ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Nasib baik pun menghampiri wanita bersuara dahsyat ini. Ia ditawari untuk berduet dengan Rhoma Irama menyanyikan lagu-lagu berirama dangdut. Hasilnya semua album duet yang dirilinsya bersama “Sang Raja Dangdut” laris manis dipasaran dan selalu meraih platinum.
Sejak bergabung dengan Soneta pada tahun 1976 hingga 1981 sedikitnya 20 album telah dirilis. Antara lain: Darah Muda, Begadang II, dan Gitar Tua. Album terakhirnya bersama Rhoma Irama berjudul “Pemilu”, yang dirilis pada tahun 1981. Kemudian ia memutuskan untuk memisahan diri dengan sang guru Rhoma Irama yang sudah membesarkan namanya. Pada tahun 1981 ia menikah dengan Jacky Zimah. Bersama sang suami ia kemudian mendirikan Orkes Melayu Jackta Group, dengan merilis debut pertamanya yang berjudul “Vol.1”. Single pertama di album ini berjudul “Jacky”. Lagu ini diciptakan sendiri oleh Rita. Bercerita tentang kecintaanya pada sang suami. Tak disangka lagu ini meledak luar biasa di pasaran. Kasetnya terjual hingga mencapai 2 juta keping. Ini adalah rekor penjualan album dangdut terlaris sepanjang masa. Lagu “Jacky” pun mengudara dimana-mana. Konon album ini juga diedarkan di Jepang dan video klipnya wara wiri di televisi Tokyo. Hingga sekarang sudah puluhan album dan ratusan lagu yang diciptakan Rita Sugiarto, namun tak ada yang sefenomenal “Jacky”.
Dalam sebuah wawancara di awal tahun 80-an, Rhoma Irama pernah mengatakan, bahwa "Rita itu langka", karena selain memililiki suara yang prima, Rita juga mampu menciptakan lagu-lagu untuk dinyanyikan sendiri, dan sebagian besar menjadi hits. Statement Rhoma tersebut barangkali tidak berlebihan, karena meski sudah tiga dasawarsa menekuni dunia dangdut, Rita tetap eksis,sementara penyanyi-penyanyi seangkatannya banyak yang sudah pensiun. Ditengah menjamurnya penyanyi-penyanyi dangdut muda yang lebih mengedepankan goyang, Rita tetap laris sebagai penyanyi rekaman dan panggung, karena ia lebih mengedepankan kualitas vokal.
Lagu-lagu yang dinyanyikan dan dipopulerkan Rita Sugiarto, sampai saat ini masih sering dinyanyikan di panggung-panggung dangdut. Hal ini bisa dimaklumi, karena Rita Sugiarto masih menjadi kiblat bagi penyanyi dangdut perempuan, disamping Elvi Sukaesih. Itulah sebabnya dikalangan pecinta musik dangdut Rita Sugiarto disebut sebagai Diva Dangdut, sementara Elvy Sukaesih disebut sebagai Ratu Dangdut.
Sebagai penyanyi dangdut senior, Rita Sugiarto dikenal sebagai sosok low profile, yang mau berbagi ilmu kepada yuniornya. Tak heran saat Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) menghujat penampilan Inul Daratista di awal tahun 2000-an, Rita tidak terlalu mempermasalahkan penampilan Inul. Bahkan Rita bersedia tampil satu panggung dengan penyanyi asal Pasuruan yang mengidolakan dirinya itu. Hal itu sempat membuat Raja Dangdut Rhoma Irama marah besar kepada Rita Sugiarto.
Di tengah jadwal manggungnya yang padat, Rita pernah menjadikan komedian dan presenter Olga Syahputra sebagai asisten pribadinya.